Gen Z lebih cenderung melaporkan masalah kesehatan mental

Lahir dengan smartphone, internet, dan teknologi tepat di ujung jari mereka, Generasi Z adalah generasi mendatang yang harus diwaspadai. Generasi Z dianggap generasi paling kesepian, menurut penelitian. Antara tidur, media sosial, dan dunia di sekitar mereka, mudah untuk melihat mengapa Gen Z menghadapi stres kronis.
Faktor-faktor ada di sekeliling mereka; meningkatnya kekerasan senjata di seluruh negeri, termasuk di sekolah tempat siswa Gen Z bersekolah, laporan pelecehan seksual yang datang dari semua orang di sekitar mereka, dan banyak dari mereka yang berurusan dengan pelecehan atau pelecehan sendiri, diskusi politik seputar imigrasi dan pajak yang dapat berdampak langsung tentang masa depan mereka, daftarnya terus bertambah. Dan ini hanyalah beberapa dari situasi sosial yang harus dihadapi dan diamati Gen Z sepanjang waktu yang menyebabkan kecemasan dan depresi. Gen Z merasa lebih stres tentang masalah ini daripada generasi lain, menurut penelitian. Mereka juga lebih mungkin mengalami masalah kesehatan mental dan fisik langsung sebagai akibat dari situasi yang membuat stres ini.

Pengaruh stres pada kesehatan mental

Jenis stres ini berdampak langsung pada kesehatan mental Generasi Z. Karena semua stres kronis yang dirasakan Gen Z, mereka mengalami peningkatan tingkat kecemasan dan depresi. Para ahli percaya bahwa tekanan yang terkait dengan media sosial telah membuat Gen Z semakin stres, dan bahwa tekanan ini secara langsung terkait dengan masalah kesehatan mental mereka.

Bagaimana meningkatkan kesehatan mental

Mencari bantuan dari seorang profesional adalah salah satu hal terpenting untuk meningkatkan kesehatan mental. Seorang profesional dapat membantu mengidentifikasi masalah kesehatan mental, jika perlu diobati, dan mengidentifikasi strategi dan sumber daya yang paling membantu.

Perawat terdidik dapat bekerja dengan Generasi Z untuk memberikan dampak positif pada kesehatan mental mereka. Bahkan jika mereka tidak dapat memberikan perawatan yang sama seperti ahli kesehatan mental, perawat tetap dapat membantu pasien meningkatkan penyakit mental mereka dengan berfokus pada kebutuhan fisik, seperti diet dan olahraga. Demikian pula, perawat yang dilatih untuk bekerja di sekolah dapat membantu anggota yang lebih muda dari Generasi Z yang masih bersekolah belajar bagaimana mengelola stres dengan lebih efektif.

Ditambah lagi, dengan banyaknya waktu yang dihabiskan untuk mengakses internet. Lama-kelamaan, pengetahuan mereka menjelma menjadi sebuah bentuk kekhawatiran yang menjadi tekanan untuk diri mereka sendiri.

Keakraban generasi Z dengan teknologi bukan semata-mata implikasi dari kemajuan zaman, tetapi juga mempengaruhi aspek psikologis dan behavioralnya. Menurut Toronto (2009), terdapat kecenderungan generasi Z memanfaatkan tekonologi untuk menghindari perjuangan di kehidupan offline mereka dan untuk menemukan kenyamanan (berbaur) dengan melarikan diri dan berfantasi untuk mengisi waktu maupun kekosongan emosional.

Ternyata, generasi ini memanfaatkan dunia virtual sebagai tempat “pelarian” dari kehidupan nyata. Sayangnya, internet bisa membuat  kondisi kesehatan mental generasi Z menjadi lebih buruk.

Menurut Anthony (Turner, Anthony. 2015. Generation Z: Technology and Social Interest. University of Texas Press: Texas), banyak terdapat situs-situs yang menampilkan self-harm dan mengajarkan orang untuk membuat senjata yang dapat dengan mudah diakses. Hal itu bisa mendorong anak muda membentuk perilaku sesuai apa yang ia simak di internet.

Bukan hanya stres, hasil lain dari keakraban generasi Z dengan teknologi adalah terganggunya kondisi psikologis. Generasi Z akrab dengan video games, permainan berbasis gadget dan internet yang menjadi sumber hiburan bagi banyak orang.

Padahal, menurut Weinstein (2010), banyak bermain video games bisa menyebabkan ketidak mampuan untuk mengatur rasa frustasi, rasa takut, kegelisahan, dan menurunnya nilai di sekolah. Sementara itu, bermain video games secara berlebihan, disampaikan Van Rooij, Meerkerk, Schoenmakers, Griffiths, & Van De Mheen (2010) dapat berdampak pada keridakmampuan untuk menyelesaikan masalah dalam memenuhi cinta, pekerjaan, dan persahabatan.

Mungkin, dunia virtual memang mengasyikkan. Penuh dengan hiburan-hiburan yang bisa sejenak mengalihkan perhatian dari realita kehidupan di dunia nyata. Namun, tak semua keseruan dunia virtual membawa dampak positif untuk kehidupan nyata.

Kecenderungan-kecenderungan psikologis tersebut bisa berdampak buruk pada kehidupan sosial generasi Z. Kemampuan penyelesaian masalah dan hubungan dengan manusia-manusia lain adalah hal penting yang harus dihadapi manusia dalam sepanjang hidupnya. Bila generasi Z tak menguasai hal-hal itu, lantas bagaimana mereka bisa melanjutkan hidup di dunia nyata ini?

Kawan akrab generasi Z lainnya adalah media sosial, pengembangan internet yang hadir untuk menghubungkan satu pengguna dengan pengguna lainnya berkomunikasi. Di satu sisi, media sosial telah mengubah sekaligus mempermudah jalannya komunikasi antar manusia.


Comments