Gen Z lebih cenderung melaporkan masalah kesehatan mental
Pengaruh stres pada kesehatan mental
Bagaimana meningkatkan kesehatan mental
Ditambah lagi, dengan banyaknya waktu yang dihabiskan untuk mengakses internet. Lama-kelamaan, pengetahuan mereka menjelma menjadi sebuah bentuk kekhawatiran yang menjadi tekanan untuk diri mereka sendiri.
Keakraban generasi Z dengan teknologi bukan semata-mata implikasi dari kemajuan zaman, tetapi juga mempengaruhi aspek psikologis dan behavioralnya. Menurut Toronto (2009), terdapat kecenderungan generasi Z memanfaatkan tekonologi untuk menghindari perjuangan di kehidupan offline mereka dan untuk menemukan kenyamanan (berbaur) dengan melarikan diri dan berfantasi untuk mengisi waktu maupun kekosongan emosional.
Ternyata, generasi ini memanfaatkan dunia virtual sebagai tempat “pelarian” dari kehidupan nyata. Sayangnya, internet bisa membuat kondisi kesehatan mental generasi Z menjadi lebih buruk.
Menurut Anthony (Turner, Anthony. 2015. Generation Z: Technology and Social Interest. University of Texas Press: Texas), banyak terdapat situs-situs yang menampilkan self-harm dan mengajarkan orang untuk membuat senjata yang dapat dengan mudah diakses. Hal itu bisa mendorong anak muda membentuk perilaku sesuai apa yang ia simak di internet.
Bukan hanya stres, hasil lain dari keakraban generasi Z dengan teknologi adalah terganggunya kondisi psikologis. Generasi Z akrab dengan video games, permainan berbasis gadget dan internet yang menjadi sumber hiburan bagi banyak orang.
Padahal, menurut Weinstein (2010), banyak bermain video games bisa menyebabkan ketidak mampuan untuk mengatur rasa frustasi, rasa takut, kegelisahan, dan menurunnya nilai di sekolah. Sementara itu, bermain video games secara berlebihan, disampaikan Van Rooij, Meerkerk, Schoenmakers, Griffiths, & Van De Mheen (2010) dapat berdampak pada keridakmampuan untuk menyelesaikan masalah dalam memenuhi cinta, pekerjaan, dan persahabatan.
Mungkin, dunia virtual memang mengasyikkan. Penuh dengan hiburan-hiburan yang bisa sejenak mengalihkan perhatian dari realita kehidupan di dunia nyata. Namun, tak semua keseruan dunia virtual membawa dampak positif untuk kehidupan nyata.
Kecenderungan-kecenderungan psikologis tersebut bisa berdampak buruk pada kehidupan sosial generasi Z. Kemampuan penyelesaian masalah dan hubungan dengan manusia-manusia lain adalah hal penting yang harus dihadapi manusia dalam sepanjang hidupnya. Bila generasi Z tak menguasai hal-hal itu, lantas bagaimana mereka bisa melanjutkan hidup di dunia nyata ini?
Kawan akrab generasi Z lainnya adalah media sosial, pengembangan internet yang hadir untuk menghubungkan satu pengguna dengan pengguna lainnya berkomunikasi. Di satu sisi, media sosial telah mengubah sekaligus mempermudah jalannya komunikasi antar manusia.
Comments
Post a Comment